"Lakukan Sesuatu yang Kita Sukai" | Djournals #17

by - October 03, 2020


Djournals
Adalah sarana sambat secara elegan

Mempersembahkan...

Setelah mengalami banyak kegagalan membuat gue sadar bahwa gue ini gak bisa apa-apa selain berserah diri. Berserah diri di sini bukan maksudnya gue cuma diam aja. Gak gitu. Selama ini gue berusaha dan berdoa sembari membayangkan hasil dari kerja keras gue. Gue ini penganut "Hasil gak akan menghianati kerja keras" maka dari itu di pikiran gue kalau kita bekerja keras maka kita akan dapat sesuatu yang kita inginkan. Beberapa kali memang works. 

Sayangnya makin lama gak kayak gitu. 

Sekarang gue gak berpikir bahwa ungkapan itu benar-benar valid sebab ada sesuatu yang gak bisa kita kendaliin. Beberapa tahun belakangan ini gue bekerja cukup keras untuk mendapatkan sesuatu yang gue inginkan. Ada yang berhasil dan gak jarang gagal. 

Sering banget gue mau nyerah karena ngerasa usaha yang gue keluarkan gak sebanding dengan apa yang gue dapat. Malahan gue gak dapat apa-apa. Ya... mau gimana lagi. Namanya juga alur kehidupan. 

Dunia ini gak berputar di sekeliling gue. Gak selamanya kita mendapatkan hasil yang sesuai meskipun effort kita udah gila-gilaan. Gue ngerasa kecewa karena semuanya gak berjalan sesuai harapan sampai pada akhirnya gue dapat jawaban. Ternyata selama ini gue menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang gak bisa gue kendaliin. Jawaban itu gue dapat ketika nonton podcast salah satu psikiater yang terkenal atau siapa gitu... detailnya gue lupa karena udah cukup lama gue dengernya. Itu pun pas denger gue sambil ngegosok baju. 

Mulai dari situ pola pikir gue berubah. It's okay effort yang udah kita keluarin gak sebanding sama hasil yang kita dapat yang penting udah berusaha. Hasilnya biar gue serahin ke Tuhan sebab dia yang punya kendali. 

Secara perlahan gue mulai gak berharap dengan hasil dan lebih memilih fokus berjuang. Kenapa? karena gue capek membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Biarin aja itu menjadi rahasia sementara tugas gue adalah memberikan usaha yang terbaik versi gue. 

Seenggaknya gue udah melakukan sesuatu yang gue inginkan. 

Ngomongin soal melakukan sesuatu yang kita suka atau kita inginkan sebenarnya rada bullshit. In real life justru kita susah banget melakukan apa yang kita inginkan. Banyak orang yang memilih mengubur sesuatu yang mereka suka demi melakukan sesuatu yang realistis. Kenapa? karena takut gagal. 

Gue pun begitu. Dari kecil gue suka banget dance sampai sering ikut lomba dan tampil di event. Walaupun tarian gue gak sebagus dancer di luar sana tapi gue enjoy doing that. Gue happy. Sayangnya bakat yang bikin gue bahagia itu harus gue kubur ketika gue memasuki akil balig. Tanpa gue perjelas harusnya kalian udah paham. 

Temen-temen gue bilang gak papa. Banyak dancer yang pakai kerudung dan mereka tetap nari. Temen-temen gue bilang gitu tapi gue cuma manggut-manggut aja. Pola pikir gue berbeda sama si dancer yang ada di luar sana. 

Meskipun sedih tapi gue harus relain kebahagiaan itu soalnya gue yakin pasti Tuhan akan kasih sesuatu sebagai gantinya. Benar aja. Gue memang udah gak tampil di panggung tapi gue menemukan sesuatu yang bikin gue bahagia selain tampil. Menulis. 

Gue mulai suka nulis gara-gara bikin cerbung di facebook pas SMP dengan isi cerbung yang konyol banget dan jokesnya hanya gue dan geng gue yang paham. Kalau kalian baca novel gue, Just A Friend, konsepnya kayak gitu tapi lebih liar lagi. Gue gak nyangka. Ternyata orang pertama yang gue 'tulis' bakal jadi orang yang bikin mood gue membaik hanya karena menyukainya. Gue gak paham kenapa bisa beneran suka padahal gak ada niatan untuk suka. Ini semua ulah temen-temen gue yang suka ngeledek. 

Si orang yang gue 'tulis' ini gabung ke grup di mana tempat gue posting cerbung bodoh ini. Pada saat itu gue dan teman-teman gue heboh bukan main. Pada masa itu gue happy banget. 

Tuhan memang selalu punya rencana indah untuk hambanya yang yakin. Terkadang hambanya yang gak yakin aja udah di siapin rencana yang indah karena Tuhan memang baik banget. 

Apa gue menyesal karena gak melakukan yang gue inginkan? 

Enggak. 

Apa gue sedih gak melakukan apa yang gue inginkan? 

Jujur sampai sekarang masih sedih tapi yaudah lah gak gue pikirin. Udah diganti sama kebahagiaan lain yang harganya gak ternilai. 

Melakukan sesuatu yang kita inginkan risikonya selalu besar. Kemungkinan untuk gagalnya juga besar, tapi bukan berarti gak ada peluang untuk sukses. 

Alasan gue sering menerima kegagalan karena gue melakukan sesuatu yang gue suka. Gue mulai suka dan menekuni bidang kepenulisan. Gue punya blog dan nulis beberapa novel. 

Gue sering overthinking dan membandingkan karya gue dengan penulis lain. Kenapa gue gak bisa kayak dia? kenapa karir gue gak sebagus dia padahal dia pendatang baru? Kenapa karya gue yang baca sedikit padahal gue udah kerja keras untuk itu? 

Banyak banget 'kenapa' di kepala gue sampai rasanya muak banget. Jawabannya simpel. Gue gak sama kayak dia. 

Setiap orang punya timelinennya masing-masing. Kita punya waktu bersinar yang beda. Apapun itu, gak bisa dibandingin antara gue dan dia karena takdirnya aja beda. Dari situ juga gue belajar ikhlas dan kembali sadar kalau gue menggantungkan kebahagiaan kepada hal yang gak bisa gue atur. Lagi. 

Sekarang gue mau benar-benar melakukan sesuatu yang gue inginkan tanpa target yang menyiksa. Gue nulis karena gue mau. Setiap buku akan ada pembacanya masing-masing. Gue bisa berpikir kayak gitu setelah bertahun-tahun observasi. 

Persetan dengan kata 'gagal' seenggaknya gue melakukan sesuatu yang gue suka dan gue gak menyesal karena melakukan itu. 

Readers suka nanya ke gue kenapa novel yang gue tulis sampai sekarang belum terbit juga. Sekarang gue akan jawab jadi kalian gak perlu tanya lagi. Alasannya karena naskah gue ditolak terus sama penerbit. Sekarang kalian paham, kan? 

Di acara tokopedia Mba Dita Karang pernah bilang, "Kamu di tolak bukan salah dia atau salah kamu tapi karena kalian gak cocok" dia juga bilang untuk terus usaha karena pada akhirnya kamu akan nemu sama sesuatu yang cocok sama kamu. Ucapan mba Dita bener banget sekaligus ngasih jawaban atas pertanyaan gue selama ini. 

"Kenapa naskah gue di tolak terus?" 

Bukannya gue gak mau. Gue juga mau nerbitin buku, tapi sampai sekarang belum ketemu sama penerbit yang cocok. Mungkin naskah gue ditolak karena tulisannya belum bagus. Tapi gue sendiri yakin penolakan itu bukan karena naskah gue jelek tapi karena kita gak cocok. Selera gue dan penerbit beda makanya gak cocok untuk kerjasama. 

Walaupun di tolak gue sampai sekarang masih nulis. Gue gak ngerasa gagal. Gue hanya melakukan sesuatu yang gue sukai. Sesuatu yang bikin gue bahagia. Sebab, gak semua hal bisa gue lakukan hanya karena 'ingin'. Ada reminder berupa realita yang memaksa gue untuk gak hanya melakukan sesuatu yang gue suka. 

You May Also Like

0 komentar