Maybe Tomorrow | Sastra #4 | Cerpen

by - September 01, 2020

 


 

 

Jika dia memang benar menyukaiku maka ia akan berusaha mencariku. Ku harap... besoklah waktunya.

—Maybe Tomorrow—

Ini adalah titik yang paling ku benci dari sebuah hubungan. Orang menyebutnya perpisahan. Semua yang telah aku lakukan terasa sia-sia ketika kamu memilih pergi secara tiba-tiba di saat aku mulai terlalu cinta.

Kenyataan begitu pahit layaknya kopi. Setidaknya kopi masih bisa ku nikmati sementara rindu ini, kapan mau pergi? Apa kau tak lelah menahanku tanpa henti?

Kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu terpaksa membuatku menghapus banyak kenangan indah mulai dari pertama aku mengenalmu sampai aku menyukaimu. Mungkin bagimu biasa saja tapi menurutku itu adalah pengalaman berharga karena mencintai dalam diam membutuhkan tenaga. Tidak sampai luar bisa, tapi tidak juga biasa saja.

Menikmati naiknya matahari ke langit dari suatu pulau terpencil ternyata tidak kalah serunya dengan menyaksikan tenggelamnya matahari pada saat senja. Aku terduduk di kursi taman dengan sebuah buku berukuran sedang yang terpangku di atas tungkaiku. Ini bukan saat yang tepat untuk bernostalgia, tapi karena buku ini aku jadi ingin memikirkannya sesaat. Apa salahnya? Hanya sesaat.

Ku buka lembar pertama di mana aku menulis rangkaian kata yang mendeskripsikan seorang Alfarein, yaitu pria yang kusukai diam-diam. Mulai dari postur tubuhnya yang tinggi, warna kulitnya yang kuning langsat, dan yang paling kusukai darinya adalah rambutnya yang selalu terlihat klimis kapanpun aku melihatnya. Bukan cuma kepadanya, aku selalu menyembunyikan perasaanku dari semua orang. Bagiku tidak ada gunanya berbagi cerita karena aku yang merasakan, bukan mereka.

Beberapa lembar selanjutnya yang ku buka cukup membuatku malu karena tingkahku yang merasa seolah Alfarein menyukaiku juga padahal aku tidak yakin dia tau aku hidup atau tidak. Wajahku pun mengembang dibuatnya.

Entah kenapa, setiap membayangkan wajah tampannya aku selalu melihat dia tersenyum kepadaku. Dia bukan tipikal pria pelit senyum. Dia hanyalah pria sederhana yang berhasil membuatku jatuh cinta.

Selama beberapa tahun aku satu sekolah dengannya membuat hari-hariku cukup berwarna. Dia juga berhasil membuatku sesekali melayang walau akhirnya menjatuhkan ku ke jurang yang dalam. Mungkin dia tidak berniat seperti itu karena yang ku tau dia hanya menganggapku orang asing.

Semuanya berubah di saat kami terpaksa terpisah. Aku dengan jalanku, dia dengan jalannya. Walau begini aku masih punya akal sehat dan aku tidak ingin mengorbankan masa depanku hanya untuknya yang belum pasti memiliki perasaan kepadaku. Itulah alasan yang sekiranya menguatkanku supaya tidak menyesal dengan pilihanku.

Dia bukan oksigen dan aku bisa hidup tanpanya. Ya, memang benar begitu tapi rasanya hati ini begitu hampa. Setiap hari aku selalu berdoa supaya besok dipertemukan kembali, namun sayangnya kami malah semakin jauh. Setiap hari aku selalu menanti harapan yang tak pasti. Langkahku dan langkahmu sudah berbeda dan sulit jika tetap dipaksa bersama. Bisa saja begitu, dengan catatan kau juga menyukaiku.

Sekarang situasinya sudah beda. Aku mulai terbiasa dengan ketidakhadiranmu begitu pula dengan hatiku. Aku masih ingin mencintaimu dan aku tidak ingin rasa ini lenyap tanpa pernyataan. Jika aku menyatakan perasaanku, akankah kamu kembali? Atau malah semakin jauh pergi?

Aku tau kalau kita sudah tidak bisa bertemu, tapi hatiku masih berharap bisa menemuimu. Satu kali.. saja. Kamu masih ada di dunia ini tapi kenapa menemuimu rasanya mustahil bahkan cenderung tak mungkin? Sial, kali ini aku terbawa perasaan lagi.

Mataku berkaca-kaca karena saking terbawanya dengan semua yang mengganjal di dalam hati. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain dan sesekali memerhatikan warna air laut yang biru serta suara deburan ombak.

Dari dulu sampai sekarang hatiku masih berharap bisa bertemu denganmu. Aku berjalan tanpa arah gara-gara rasaku yang berlebihan. Munafik kalau aku tidak berharap bisa bersamamu. Mungkin di depan semua orang aku berkata kalau aku tidak berharap, tapi hati ini selalu menyangkal.

Langit yang tadinya gelap kini berubah jadi lebih terang dengan angin yang berhembus pelan. Beberapa helai rambutku dibuat terbang olehnya. Sepertinya aku harus membuat pilihan supaya hati ini mau merelakannya. Diperjuangkan juga tidak ada gunanya, yang diperjuangkan saja tidak tau untuk apa buang-buang waktu?

Aku pun bangkit untuk kembali ke penginapan. Ini adalah hari terakhirku di pulau ini dan mau tak mau aku harus pulang untuk melanjutkan hari-hariku di sekolah yang sama sekali membuatku tidak semangat menuntut ilmu.

Mataku menatap pasir putih yang sengaja ku injak untuk sekedar menghilangkan rasa bosan. Aku harus terus mengingatkan kepada hatiku kalau dia bukanlah oksigen dan aku yakin bisa hidup tanpanya.

"Nara?" panggil seseorang yang membuatku menghentikan langkah. Suara itu berasal dari arah bekakang. Sontak aku pun berbalik badan dan memastikan siapa yang mengenaliku di tempat ini.

Mataku membulat.

Aku tidak pernah menyangka kalau permohonan konyolku dikabulkan.  Di depan sana ada pria sederhana yang tampilannya sama sekali tidak berubah. Entah kenapa, mataku kembali berkaca kaca.

Pria yang ada didepan sana menatap ke arahku sambil tersenyum tipis. Senyuman itulah yang selama ini aku rindukan. Dia yang barusan memanggilku melangkah maju menghampiriku. Kami berhadapan dengan mata yang saling menatap satu sama lain.

"Kamu Nara, kan?" tanyanya.

"Iya, aku Nara" jawabku.

"Syukurlah, akhirnya kita bertemu lagi" dia memasang wajah ceria yang masih tidak bisa ku artikan.

"Maksud kamu?" Aku menyernyit.

"Selama ini aku mencari kamu, ya.. Mungkin kamu tidak melakukan hal yang sama"

"Kamu mencariku?" aku tidak percaya. "Apa aku tidak salah dengar?"

"Justru, ketika tadi melihatmu aku berpikir. Apa aku tidak salah lihat? Dan ternyata memang benar kamu"

"Lalu?"

"Apa kamu tidak ingat aku?"

Aku tersenyum. "Bagaimana bisa tidak ingat kalau setiap hari aku selalu berharap melihatmu"

"Kamu tidak berbong, kan?"

"Aku tidak punya alasan untuk berbohong"

"Aku mungkin telat menyadari perasaanku dan aku juga tidak yakin apa aku benar menyukaimu atau tidak"

"Jawabannya?"

"Aku menyukaimu"

"Apa buktinya kalau kau menyukaiku?" aku menantangnya. Tiba-tiba Alfarein menarik tanganku lalu meletakannya di dadanya lebih tepatnya di bagian jantung.

Aku bisa merasakan kalau jantung Alfarein berpacu dengan cepat.

"Ini hanya terjadi jika aku melihatmu, mungkin kau tidak pernah sadar" Alfarein menghela napas. "Apa kau tau tau apa keahlian rahasiaku? Menyembunyikan rasa dari orang yang ku suka "

"Dan apa kau tau keahlian terbaikku? Selalu bersikap tenang walau sedang menahan rasa" balasku.

Kami terdiam namun masih saling menatap. Aku melepaskan tanganku dari genggaman Alfarein. Permohonanku telah dikabulkan dan saat ini aku harus menepati janji kalau aku harus merelakan orang yang saat ini ada dihadapanku

Dengan berat ku katakan, "Terimakasih sudah muncul kembali. Semoga kau bisa melanjutkan hari harimu dengan baik" pungkasku kemudian berbalik badan meninggalkannya.

Terasa berat tapi aku harus melakukannya. Setidaknya aku sudah menyatakan perasaanku walau secara tak langsung dan aku juga sudah mengucapkan kata kata perpisahan. Jika selama ini dia memang mencariku pasti dia tidak akan membiarkanku pergi seperti ini. Pasti dia akan mencegahku. Aku masih memegang teguh prinsipku, jika dia memang benar menyukaiku dia akan berusaha mencariku, dia akan berjuang untukku. Mungkin apa yang dia katakan barusan hanyalah kata-kata pemanis yang biasanya laki-laki katakan untuk memikat. Namun, aku agak ragu kalau kata-kata tadi hanyalah pemanis.

Aku harus menerima kenyataan bahwa dia tidak mencegahku melainkan... memelukku. Dia meraih lenganku lalu membawaku masuk ke dalam dekapannya yang hangat, bahkan aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang khas. Memang benar dia tidak mencegah melainkan menahanku. Entah kenapa, hati ini rasanya senang seolah hari ini aku benar benar menang.

Alfarein tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya diam sambil mendekapku. Aku pun begitu. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya.

Rasanya masih tidak mungkin kalau aku bertemu sekaligus dipeluk olehnya. Seketika kesedihanku hilang. Air mata kesedihan yang pernah ku jatuhkan untuknya berubah jadi tangisan bahagia.

"Jangan pergi lagi, aku tak sanggup menahan ini sendiri" katanya.

Aku terdiam. Aku sudah berjanji untuk merelakannya, tapi hati ini sudah luluh oleh bukti nyata yang Alfarein lakukan. Dia tidak hanya mengatakan kata-kata indah tapi juga membuktikannya. Keputusan apa yang saat ini harus ku ambil?

"Apa yang aku dapat jika memilih bersamamu?" tanyaku. Dia pun melepaskan pelukannya dan kembali menatap mataku dengan hangat. Dari mata cokelatnya yang terang terlihat ada aku di sana.

"Aku tau selama ini kau kesulitan. Aku tidak ingin berjanji, tapi sebisa mungkin aku akan berusaha melindungi sekaligus menjaga hatimu yang mulai rapuh"

"Apa buktinya kalau hatiku rapuh?"

"Kau tidak melepaskan pelukanku justru membalasnya. Kalau bukan rapuh lantas apa?"

Aku dibuat terdiam lagi olehnya. Hanya selangkah lagi tapi aku masih bingung. Aku pun kembali menatap matanya yang terlihat seperti menunggu jawaban. Jujur, aku masih tidak kuat untuk mengatakan ini.

Dengan hati-hati ku katakan, "Hatiku memilih mu, apalagi yang bisa ku lakukan?" dan dia kembali memelukku dengan hangat. Untuk pertama kalinya aku mengingkari janji yang ku buat untuk diriku sendiri. Kali ini aku yakin dengan perasaanku dan sudah mantap dengan pilihanku.

Untukmu Alfarein, terimakasih sudah membuktikan kalau aku tidak berjuang sendiri. Terimakasih atas kenyataan manis yang saat ini aku terima. Berkatmu aku yakin lagi kalau tidak ada usaha yang sia sia. Kutarik kembali perkataanku bahwa memerjuangkanmu adalah hal yang percuma. Kau yang menyadarkanku dikala aku hanya percaya bahwa ini cuma cinta sepihak.

Aku tau ini bukanlah akhir melainkan sebuah awal. Kuharap kau siap berjuang lebih keras lagi bersamaku untuk memertahankan hubungan ini. Mari saling menggenggam tangan dan jangan pernah melepaskan walau hanya sedikit.

—SELESAI—

You May Also Like

0 komentar